24.3.07

Trip Organik Posko Hijau Bandung

Wisata Organik atau Trip Organik Posko Hijau Bandung bertujuan mengenalkan aneka proses pembuatan bahan organik kompos hingga budidaya pertanian organik sampai mencicipi makanan serba sehat dan organik, yang tentunya sangat baik bagi kesehatan. Bermula dari banyaknya permintaan kunjungan dari usahawan, kalangan pemerintah hingga Ibu-ibu PKK, dan bahkan organisasi Internasional, kemudian MarkNet- suatu Business Services -akhirnya mengemasnya menjadi suatu Trip Organik Posko Hijau. Lokasi tujuan Trip terdiri dari Sentra Tanaman Hias terbesar di Bandung- Tegalega, Instalasi Pengolahan Kompos (IPKK) di Ciparay, Warung Kacang kedelai rebus Jelekong, "Rumah Makan Kampung", Instalasi Pengolahan Kompos di Cipadung dan Herbal Corner MarkNet di Kota Bandung. Pengusaha Selangor Malaysia, Deputy KUKM Malaysia Mr. Dato Adzmy Abdullah dan rombongan MIHAS, pengusaha Kelantan Pahang, peserta Lokakarya Wanita Internasional pernah menyambangi tempat-tempat -yang menjadi objek Trip Organik ini.
 
Pkl 10.00 pagi dengan menumpang Bis Wisata yang nyaman ( reclinyng seat, AC, TV, VCD) berkapasitas 27 orang, sepanjang perjalanan Wisata Organik Posko Hijau diisi dengan pemaparan - lisan juga melalui VCD- tanya jawab seputar kompos, sampah, mengelola sampah, khasiat tanaman obat dan tanaman organik serta selingan jenaka pemandu -yang "good looking" maupun para pemateri sesuai keahliannya masing-masing. Organizer Trip Organik menyajikannya melalui layar TV- VCD serta penjelasan dan tanya jawab secara santai sambil mengitari jalan-jalan di Kota Bandung menuju Kabupaten Bandung.

Eh lupa.....sebelum naik bis, sejenak, peserta - yang datang umumnya membawa kendaraan- parkir kendaraan dulu di MarkNet Meeting Point - yang tak lain pilihannya adalah Jl. Pungkur 115 serta Point ke - 2 di Graha Kadin di Lantai 1, Jl. Telaga Bodas 31 Bandung. Peserta mendapat penjelasan singkat, 15 menit saja, akan tujuan wisata atau Trip. Trip Organik, yang sebenarnya "Pelatihan Membuat Kompos Secara Praktis" ini, dirancang agar dalam waktu singkat peserta memahami dasar-dasar manfaat organik kepada kesehatan, membuat kompos praktis dan sekilas aneka tanaman berkhasiat. Peserta pun siap berangkat, petugas Trip kemudian membagikan bahan perjalanan berupa camilan aneka snack akuoke dan herbal "take away" dalam cup sealer. Ternyata, oi.......ini bukan minuman air mineral.....aneka pilihan "fresh herbal" deng. Maka sesuai minat masing-masing peserta mengambil "jatah" minuman herbal dan sejenisnya meliputi curcuma lemon, coffee, green tea, susu kedelai, serta pilihan juice buah jeruk, buah naga dan air mineral.

Hanya sekitar 10 menit perjalanan, peserta Wisata Organik Posko Hijau dimampirkan ke arena Tanaman Hias terbesar di Kota Bandung yakni Tegalega dan Monumen Bandung Lautan Api (BLA)- yang terkenal itu. Peserta dapat membeli aneka tanaman hias, perlengkapan bertaman hingga bibit buah-buahan. Waktu disini amat singkat, hanya 20 menit saja, peserta harus dapat mencari bibit tanaman hias maupun bunga dan buah-buahan yang memang tersedia dengan banyak pilihan.

Sekitar Pkl 10. 45, dari Tegalega, Trip dilanjutkan menuju Instalasi Pengolahan Kompos Kota (IPKK) di Cipadung Cibiru. Sampah warga 1 RW di kawasan Cipadung, sekitar IPKK ini, diolah menggunakan Komposter Rumah Tangga ( Type S,M dan L) serta alat komposter Hand Rotary Klin. Dengan waktu kurang lebih 12 hari, sampah dalam komposter ini pun terdekomposisi menjadi hitam dan menyusut sekitar 50 %. Disamping peserta Trip diberi pengetahuan akan manfaat adanya Instalasi serta kepada lingkungan, dengan harga murah, hanya kisaran Rp. 295.000 hingga Rp 595.000,- per unit, alat komposter mampu memberi pendapatan kepada pengelola Instalasi IPKK Posko Hijau. Disini sang perintis- yakni sdr Iman Sutriman, berusaha menyampaikan secara detail informasi serta pengalaman dia memulai usaha kecil ini hingga sekarang mengelola sekitar 10 Unit Komposter Type L, 1 Unit Rotary Klin composter kapasitas 200 kg per proses dan memiliki sebuah motor roda tiga buat angkutan bahan sampah maupun penjualan hasil daur ulang.

Peserta Trip pun mencoba membuat kompos pada komposter BioPhosko ini dengan semangat.....Bermula dengan menaburkan penggembur mineral green phoskko, sampah yang tadinya berbau sekejap jadi netral "wangi"nya. Kemudian peserta pun belajar langsung melarutkan, mengaduk dan menyimpan aktivator mikroba sampah dalam ember tersedia. Setelah dianggap terlarut, aktivator ini dicipratkan ke atas tumpukan sampah organik hingga lembab. Memang saat itu peserta menggunakan aktivator yang sudah tersedia, karena mestinya larutan itu sudah tersimpan minimal 4 jam sebelum digunakan. Setelah diaduk hingga merata, aneka bahan sampah dengan mineral penggembur serta percikan larutan aktivator kompos pun menjadi "adonan kompos". Nah, adonan inilah - yang kemudian dimasukan kedalam komposter menggunakan sekop. Ramai-ramailah semua peserta mencoba memasukan adonan ini, kemudian komposter disimpan di tempat teduh dan tidak terkena hujan maupun sinar matahari langsung.

Sekitar pkl 12.00, usai belajar membuat kompos menggunakan komposter skala Rumah Tangga, setelah perjalanan sekitar setengah jam mengitari Kota Bandung, sampailah bis Trip Organik ke Rumah makan yang sederhana di kawasan Bojongsoang, sebelum tol ke arah Sumedang Garut. Disini, agak mengagetkan juga, ketika makan siang disuguhi aneka makanan suasana "kampungan" dan konon bahan masakannya- berupa sayuran bebas pupuk kimia dan pestisida. Penampakan luar, kelihatan sayuran nggak semulus di Supermarket. Ada antanan, tespong dengan sambel dadakan; ada belut goreng, impun ( ikan kecil-kecil), pepes bendot, goreng hurang ( udang air tawar kecil biasa hidup di danau atau situ ). Disini para peserta dapat melepas penat setelah duduk dan diskusi di dalam bis, atau bagi Muslim bisa menjalankan ibadah sholat di Mushala yang tersedia serta juga................­.....bagi perokok - yang selama dalam bis "No Smoking" - bisa berpuas menghabiskan sebatang rokoknya deh...............

Setelah makan dengan nikmat- seringkali kita makan hanya enak tapi lain dengan arti nikmat- minuman pun disuguhkan air teh hangat yang enak wanginya. Ternyata, air dan segala masakan itu bukan ditanak dan dimasak diatas kompor minyak atau gas melainkan, menggunakan "hawu" ( tungku, sunda- red) dengan kayu bakar. Jadilah air teh hangat yang harum dan enak tanpa kontaminasi rasa dan bau minyak sedikitpun- melainkan aroma asap kayu bakar dengan wangi khasnya.

Dengan perut kenyang, setelah satu jam perjalanan melewati sawah dan ladang penduduk, sekitar pkl 14.00 sampailah peserta Wisata Organik ke lokasi Instalasi Pengolahan Kompos Kota (IPKK) Posko Hijau di Ciparay. Sebenarnya daerah ini sudah masuk wilayah Kabupaten Bandung, melewati daerah Jelekong tempat dalang terkenal Asep S Sunarya serta Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Jelekong, peserta pun akan merasakan suasana desa yang resik. Peserta diberi penjelasan tatacara pengolahan sampah skala komersial ini. Ibu Tuti, perintis usaha ini menjelaskan bahwa sampah dari sekitar rumah dan pasar diolah hanya 5 hari bisa menjadi kompos- suatu pupuk organik yang amat penting bagi pertanian dalam menghasilkan makanan sehat.

Suasana resik pedesaan di sekitar Bandung amat terasa disini. Masih ada angsa berkeliaran, ada kolam ikan serta ternak domba dan ayam- yang satu sama lain saling berkorelasi atau "bersimbiose mutualis" gitu dech. Sampah organik, hasil pemilahan bahan kompos, jadi makanan domba; Sementara lain, kotoran domba menjadi bahan kompos. Demikian juga kotoran ayam, menjadi bagian dari bahan kompos - yang bermanfaat dalam menaikan kandungan unsur hara kompos dan memperbaiki C/N rasio serta temperatur dalam proses pembuatan kompos. Namun, jangan disangka jika tempat ini, kendati dekat kotoran dan sampah, adalah bau dan kotor. Bahkan, lalat pun hampir tidak ada sama sekali dan rumah yang lokasinya hanya 2 m dari IPKK resik-resik aja kok.

Bahan sampah, yang telah dirajang menjadi ukuran sekitar 10-15 mm, diberi material mineral Green Phoskko agar menyerap mikroba patogen, menaikan PH bahan kompos menjadi netral, menjaga kelembaban air serta terutama menghilangkan bau sampah- khususnya jika sampah berasal dari pasar dan telah lebih dari 10 jam tersimpan. Ukuran sampah memang masalah bagi bahan asal pasar, seringkali berukuran besar sehingga memerlukan perajang mengecilkannya. Namun, sampah rumah tangga umumnya sudah kecil tidak perlu lagi perajang dong............­Apapun caranya, buatlah ukuran sampah sekecil mungkin jika bisa, kaitannya dengan kecepatan proses dekomposisi saja. Makin kecil dan halus, dijamin sesuai cerita ini, 5 hari jadi kompos yang baik.

Kompos yang dihasilkan amatlah menguntungkan jika sekali proses 1 ton bahan sampah ( sesuai kapasitas Rotary Klin Komposter), 5 hari kemudian menjadi 500 kg kompos dan sekitar 50 liter pupuk organik cair. Dengan harga murahnya, kompos Rp 1000,-/ kg dan pupuk cair Rp 20.000,-/liter, tidak akan kurang dihasilkan Rp. 1.000.000 hingga Rp 1.500.000,-. Sungguh suatu pendapatan yang menggiurkan jika saja para peserta selepas trip Organik ini segera membuka usaha sama. Bahkan dalam Trip ke-3, sekitar bulan Agustus 2006- yang diikuti para pengusaha dan pejabat Koperasi Malaysia- Mr Dato' Adzmy Abdullah, Kuasa Setia Usaha Kementrian Koperasi dan Pembangunan Usahawan Malaysia, sangat tertarik dan akan mengembangkan Instalasi Kompos ini bagi usahawan di Malaysia.

Sepanjang jalan yang dilalui, peserta akan melihat langsung tanaman sehat menyehatkan. Pengertian sehat dalam arti bagi manusia, bukanlah sebagaimana dilihat di super market. Bahkan tanaman sehat menyehatkan justru seringkali daunnya berlobang- mungkin bekas ulat- akibat tanaman bebas pestisida. Peserta, lagi, di beri penjelasan Ibu Tuty di kawasan sawah yang sepenuhnya menggunakan kompos. Padi mulai sebagian menguning dengan biji padi yang bernas, menandakan sekitar 2 minggu lagi akan panen. Sawah di sekitar Ciparay ini telah menggunakan kompos dan beberapa petak petani juga menggunakan pupuk majemuk Gramalet formula tanaman Padi.


Masih Sekitar Ciparay, seusai melihat pesawahan organik, peserta Trip disinggahkan ke tempat yang amat sederhana. Disini dapat dinikmati aneka penganan - yang pasti organik dan alami mengingat hasil tanaman para petani sekitar dengan keadaan ekonomi yang sederhana atau petani miskin. Ada kelapa muda, kacang kedelai rebus terkadang kacang tanah rebus, semangka dan bahkan makanan khas daerah ini yakni "borondong garing'. Di sekitar ini pula bisa didapatkan kerajinan wayang golek, lukisan, aneka alat dan bahan memancing serta hobby burung dan melihat pemandangan sawah yang seluas mata memandang...........­.........

Setelah berpuas menikmati dan melepas dahaga meminum kelapa muda di depan pesawahan di Jelekong, berangkat menuju Kota Bandung. Dengan mengambil jalan baru, bukan sama dengan berangkat, melalui daerah Sapan, sekitar 1 jam kemudian atau pkl 16.00, sampailah peserta Trip Organik kembali ke tempat Meeting Point semula, Graha Kadin Kota Bandung. Di sini peserta disaji aneka minuman berbahan serba herbal dan berkhasiat. Disinipun peserta dapat melepas penat setelah duduk tanya jawab di Bis, juga tersedia juga Mushala di Basement Graha Kadin bagi Muslim serta peserta lainnya ber "kongkow ria" dibawah tenda dengan semilir angin sore Bandung sambil "cuci mata" mengamati jalan yang dilalui banyak peuyeum bandung.............­..........eh perempuan.... .


Ada curcuma lemon, coffee namun dengan pemanis gula semut, intant ginger seduh - yang manis hangat, bandrek, wedang jahe, kaffee latte, curcuma coffee moca, herbal prima special, bir jawa berbahan aneka herbal mix (Java Bier), susu kedelai mix cocoa hangat, kunyit gula semut, sirih manis segar hingga kopi toebroek. Melas pun aneka pilihan mulai tempe mendoan, tempe dan oncom tepung, surabi bandung, tahu cibuntu goreng, dan ....................­............wuih banyak deh pilihannya.

Dan lebih menariknya, walaupun cuma makan minum dibawah Tenda Flexibel, tersaji makanan unik tempe mendoan, kerupuk lagendar, tempe tepung dengan cabe rawit, surabi bandung, tahu goreng cibuntu dan kacang rebus. Selain "makanan fresh' sebagaimana diatas, terdapat pula makanan camilan kripik nangka, kripik salak, keripik singkong, opak ketan bakar dan keripik pisang tersaji pada magic duck kayu mahoni- yang memang unik pula............­pokonya serba unik, menyehatkan dan ramah lingkungan deh !

Luar biasa jadinya, ketika peserta Trip Organik sore hari sekitar pkl 17.00 mulai mencicipi aneka minuman dan makanan berkhasiat ini. Dengan makanan dan minuman tersaji secara buffet diatas nampan bambu atau "nyiru" ( sunda, red), peserta Trip malahan ada yang minta nambah minuman herbal yang sama dengan 1 gelas sebelumnya. Namun eiiiit..............­.....nanti dulu, minuman herbal ngak boleh terlalu banyak jeng ......!. Jadinya ya..........peserta pada beli deh herbal keringan dan aneka camilan kriuuuk yang unik, menyehatkan dan berseka ini untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh buat kerabat di rumah.


Tak aneh jika MarkNet Herbal Corner ini disukai, tak ayal Wakil Gubernur dan para pejabat di Jawa Barat pun pernah berkesempatan mencicipi di suatu Tea Festival. Demikian juga Ibu Walikota Bandung, Deputy Kepala BKKBN Pusat dan Jawa Barat serta Deputy Kementrian Koperasi dan Usahawan Malaysia, Dato Adzmy Abdullah hingga relasi bisnis seperti SekJen atau Direktur KADIN Pusat- Drs Hariadi Saptadji, Dekan Fakultas Ekonomi IPB -Prof Dr Didin Damanhuri, Ketua Umum Kadin Jawa Barat- Drs Jajat Priatna, Direktur INDEF- Fadhil Hasan dan masih banyak lagi "inohong" - yang menyukai sajian aneka makanan segar dan minuman Herbal Corner ini.

Peserta Trip juga antusias menanyakan tatacara menyeduh teh hijau alias Green Tea, membuat herbal herbiPrima jadi segar dan enaaak..........Sang Bar Tender pun dengan agak "ogah-ogahan" membuka rumusnya. Maklum, Rahasia perusahaan kali................­....kecuali kalau mau jadi jadi "franchesse" katanya boleh "blak-blakan" ya........!!!

Yang kemudian repot adalah para peserta Trip ketika masing-masing belanja aneka produk "unique- healthy & eco friendly" dari kencana Artcles ini. Ada yang membeli komposter dengan aktivator dan mineralnya, ada yang membeli aneka camilan akuoke, herbal instant dari keluaran HerbiPrima (kunyit putih, kunyit hitam, temulawak- yang konon bisa membuat tertawa bahagia....) serta gula semut. Dan kejutannya, peserta Trip juga mendapat "merhandise" berupa "Mug" dan T Shirts serta VCD dan 1 Foto masing2 peserta- hasil liputan sepanjang perjalanan - yang dengan kecepatan kerja MarkNet- segera bisa dibawa pulang sesaat melepaskan penat di Herbal Corner. Dengan biaya Rp 295.000,- per peserta, Trip Organik dengan segala penerangan sepanjang perjalanan, memuaskan deh. Disamping mendapat makanan dan minuman khas, melihat kota dan pedesaan Bandung- yang menarik bagi peserta dari Kota besar- bahkan luar negeri- utamanya juga dapat jaminan kalau peserta akan mengerti betul tatacara mengelola sampah dan membuat kompos+++)