14.4.15

BUAT BERAS DI RUMAH, GABAH PETANI PUN TAK PERLU (LAGI) TENGKULAK

Diskusi, penelitian dan seminar mengentaskan petani (gurem) mungkin sudah ribuan kali dalam kurun puluhan tahun. Namun nilai tukar produk pertanian (padi) tak kunjung membaik. Menaiknya harga beras di pasar tidak serta merta dinikmati petani. Memperbaiki posisi tawar petani, sebagai jalan menaikan kesejahteraannya, kini sedang diikhtiarkan Sonson Garsoni​, dkk agar hasil GKG ( Gabah Kering Giling) terjual kepada konsumen akhir dan, bukan melalui pedagang perantara (tengkulak).

Jika konsumen beras, dalam hal ini (rumah tangga/ keluarga, rumah makan, dan pengguna beras lain) membeli bentuk gabah ( bukan beras) apalagi secara langsung ke petani, dan mengolahnya menjadi beras di masing-masing rumah, akan memposisikan gabah tidak lagi sebagai bahan baku, melainkan produk akhir ( end product) diperjualbelikan di pasar ( traddable goods).

Pasar akan berlangsung dengan persaingan terbuka. Petani tidak lagi bergantung kepada perantara, pembentuk rantai tataniaga, ke konsumen akhir. Harga terbentuk oleh mekanisme pasar sempurna, tidak lagi berlangsung dalam kondisi seperti sekarang, penjual banyak dengan pembeli sedikit ( monopsoni). Caranya? Miliki alat pengupas atau penggiling padi (manual) oleh masing-masing rumah, kumpulan rumah keluarga besar, warung makan, restoran, kantor pemerintah, koperasi karyawan, warung2 tradisional meniru beras buatan mini market dan sejenisnya. Cocok juga bagi institusi pertanian dan peraga pendidikan sekolah.

ALAT PENGGILING PADI MANUAL
Alat terbuat dari kontruksi besi ( 55 x 25x 30 ) cm dengan 2 buah roll karet dan sprocket pada rasio tertentu, APP 15 L berkemampuan menggiling gabah kering (GKG) 15 liter per jam. Tergantung kebutuhan, bisa hasilkan 100 kg/ hari maupun sekedar buat makan harian

MENURUNKAN HARGA BELI BERAS Rp 5000/kg
Jika anda sebagai konsumen beras membeli gabah dari petani sesuai HPP, misal saat ini Perpres No 5/'2015 ( 14 April ) Rp 4.600/ kg maka, dengan rendemen minimal 65 % ( atau beli 2 kg digiling di rumah akan jadi 1.3 kg beras), seolah anda membeli beras Rp 9.200 untuk 1,3 kg atau, Rp 7.076/ kg beras sementara di pasar saat sama Rp 12.000/ kg. Kalau rendemen gabah lebih besar, biaya anda beli beras akan lebih murah lagi. Tapi ya itu tadi, anda harus menggiling sendiri dengan penggiling padi manual..........menggunakan energi nasi.

Manfaat punya alat penggiling beras (manual), disamping biaya beras lebih murah, adalah :
  1. 1, bisa simpan stock dalam bentuk gabah (GKG) hingga 2 tahun tanpa tempat mahal, jauh lebih tahan ketimbang menyimpan bentuk beras ( dalam alat penyimpan beras yang mahal)
  2. 2. kandungan nutrisi tinggi dengan mengatur derajat sosoh (jangan terlau menggiling bersih, hingga kulit ari habis)
  3. 3. nasi lebih enak dari beras dadakan (fresh), anda cukup menggiling sesuai kebutuhan masak nasi harian
  4. 4. menaikan solidaritas dengan saudara (petani), gabah akan ramai diperjualbelikan di pasar,
  5. 5. bisa juga buat usaha keluarga, beras kemasan, dengan merk anda sendiri, 
MEMUDAHKAN PEMASARAN DAN MENAIKAN PENDAPATAN PETANI

Jika anda petani padi menjual bentuk GKG, pada HPP Bulog Rp 4.600/ kg, padahal dengan rendemen beras 65 % akan didapat 0.65 kg beras bisa dijual 65/100 x Rp 12.000= Rp 7.800. Margin selisih harga Rp 3.200/ kg dapat anda nikmati ketika bersedia mengolahnya di rumah2. Manfaat lain, (1). petani dapat menyimpan persediaan gabah tanpa takut harga jatuh, (2). mengkonsumsi gabah/ beras hanya saat perlu atau, (3). menjual beras saat harga di pasar bagus, (4). ada perolehan lain dari menir dan dedak.

Dengan APP 15 L kedua pihak tidak saling merugikan, harga akan terselenggara dengan adil, dan......hmmmm, kalau petani pemilik gabah perlu uang buat produksi MT berikut, bisa gadai gabah dengan resi gudang ke Bank (*)


Referensi Bacaan Sonson Garsoni Marketing Network

Video Sonson Garsoni Marketing Network

Loading...

Video Sonson Garsoni Marketing Network

Loading...
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Diskusi Marketing Network

Sonson Garsoni Line Of Business

Sonson Garsoni Line Of Business
Sonson Garsoni, pada awalnya mendirikan jasa konsultansi manajemen, pertanian, lingkungan dan pemasaran, tahun 1985 di kota Bogor Indonesia. Disamping menjalankan layanan tersebut, lebih dari 15 tahun terakhir, melakukan penelitian aksi (action research) berupa kegiatan penguatan dan pendampingan usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKM). Mentrasfer informasi (Standar Produk, Cara Produksi, Trend Permintaan Pasar, Kemasan Produk) serta pendampingan usaha - dalam menguatkan kinerja pemasaran para Usahawan. Kapasitas pribadinya dalam penguasaan bisnis antara lain hasil olahan (makanan kecil), pupuk majemuk, pupuk tablet, komposter pengolah sampah organik, pupuk organik kompos, herbal - tanaman berkhasiat dan hasil pertanian sehat bebas kimia (BerSeka) lainnya seperti beras, teh hijau (Green Tea), kopi dan sejenisnya.

Dipercaya dalam Working Group on Agriculture (WGA) Indonesia - Belanda

Dipercaya dalam Working Group on Agriculture (WGA) Indonesia - Belanda
Kerjasama bilateral Indonesia dan Belanda mengikutsertakan Sonson Garsoni dari komunitas pengusaha pertanian, bersama Menteri Pertanian RI, mengikuti berbagai pertemuan merumuskan program bersama yang saling meguntungkan.

Mendapat Penghargaan Negara

Mendapat Penghargaan Negara
Penghargaan negara berupa Dharma Karya Kencana

Sonson Garsoni dan HKTI Nasional

Sonson Garsoni dan HKTI Nasional
Menjalin hubungan baik dengan Ir Siswono, Ketua Umum HKTI

Cari

Memuat...